Blog Official Eko Rudianto yang membahas tentang Blogger , Makalah, Artikel , Religi, Wisata dan lain-lain

Tuesday, December 9, 2014

Sejarah Singkat KH. Muhammad Busthomil Karim

Lengkong wonoresik, secara geografis adalah sebuah pedukuhan/grumbul yang masuk wilayah desa wonosari kecamatan kebumen kabupaten jawa tengah, atau terletak disebelah timur pondok sumolangu yang sangat tersohor. Penduduk grumbul wonoresik pada waktu itu lebih gemar mencari nafkah dengan berdagang keluar daerah sekitar, seperti wonosobo, purworejo dan daerah lainnya, termasuk eyang sandikrama (ayah kandung dari simbah Busthomil karim), beliau adalah sosok seorang ayah yang sangat ulet dan ta’dzim kapada kyai, beliau adalah pedagang soto yang cukup berhasil pada zamannya, bahkan beliau sampai membuka cabang kedai sotonya di wonosobo, sebuah kabupaten yang bertetanggan dengan kebumen, di wonoresik inilah busthom kecil dilahirkan, eyang sandikrama bin tirta mamad, bin siroj, bin beruk, (simbah beruk bukan nama asli, nama beruk adalah nama sebutan seorang pegawai juru gaji kraton/bendahara, yang mana kala itu takaran yang beliau pakai untuk membagi gaji para pegawai kraton adalah beruk (alat takar yang terbuat dari tempurung kelapa), karena itulah ia terkenal dengan asma laqob. Simbah beruk adalah santri kyai asal sumolangu, dan simbah busthom lahir dari Rahim ibu bernama syartiyah binti……..

Ada kejadian yang selalu diingat oleh keluarga simbah saat ia masih usia kanak-kanak, busthom kecil mengalami kejang-kejang yang hebat sampai-sampai orang tuanya menghawatirkan kalau beliau mengidap penyakit ayan (epilepsy), tapi alangkah senang dan terkejutnya ketika tersadar, busthom kecil bercerita dengan polosnya bahwa beliau baru saja terbang mengelilingi desa wonosari. Kejadian ini adalah sebagai kisah yang mengawali kenyelenehan dan koriqul adah simbah busthom, bahwa ternyata beliau calon panutan umat dikemudian harinya. Masa kecil beliau banyak dihabiskan dikampung halaman dimana beliau dilahirkan, sampai menginjak masa remaja. 


NYANTRI DAN MENGAJI 
 
Dalam dunia tashowuf lazim dikenal dengan istilah ilmu syari’at dan ilmu hakikat dalam konteks ini ialah ilmu thoriqoh, oleh karenanya pengembaraan simbah busthom dalam menuntut ilmu, dibagi dua fase.

A. Fase Mengaji Ilmu-Ilmu Syari’at
Lazimnya anak-anak desa pada zamanya, busthomi kecil mengawali pengembaraan keilmuannya untuk mengaji Al-Qur’an dan kitab-kitab kuning semisal kitab kasyifatussaja, sarah sulam safinah, kitab sulam taufiq.
 
B. Yang keduanya adalah karya syaikh nawai Al-bantani, kitab taqrib yang tashnif oleh imam ahmad bin husein yang terkenal dengan imam abi syuja’, dan kitab-kitab lainya di surau dan rumah-rumah kyai, diantaranya kyai sis, kyai ahmad jazuli. Setelah simnah busthom besar kemudian hijrah dari kebumen kewilayah cilacap bagian barat tepatny desa ci suru kecamatan ci pari. Alasannya karena di grumbul lengkong/wonoresik kala itu belum ada seorang kyai yang intes kedunia pendidikan agama, seperti dituturkan diatas, bahwa pada waktu itu penduduk grumbul wonoresik lebih tertarik kepada perdagangan dari padaa dunia pendidikan agama islam, sehingga grumbul wanaresik tidak melahirkan tokoh agama yang mampu membimbaing warganya memperdalam ilmu agama, tentunya berbeda pada saat buku ini disusun, penyusun menyaksikan sendiri bahwa di grumbul wanaresik saat ini telah berdiri megah masjid dan pondok pesantren. Mendalami Ilmu Dan Laku Tashawuf

Selang beberapa tahun sejak pernikahanya, putra pertama pemuda Busthomi buah pernikahanya dengan ning Muti’ah pun lahir, dan mereka memberi nama Ashmu’i. Pernikahan dan kehadiran buah hatinya, ternyata tidak mampu mengalahkannya kecintaanya kepada ilmu-ilmu agama.

Berbekal restu orang tua, mertua dan istrinya, pemuda busthomi kali ini ‘azzam untuk nyantri dinegeri tetangga singapura. Kala itu pelabuhan penyebrangan antar Negara hanyalah tanjung priyuk Batavia (sekarang ystem).

Setelah menitipkan istri dan putranya yang pertama kepada mertuanya berangkatlah pemuda Busthomi ke Batavia. Perjalanan dari kebumen kebatavia beliau lalui berjalan kaki, dengan harapan setiap ulama pondok pesantren yang beliau singgahi selam perjalanan akan semakin memperkaya hazanah keilmuannya, diantaranya pondok pesantren yang disinggahi adalah pondok Cirebon. Sesampainya ditanjung priuk ia merasa ngeri melihat ombak dan luasnya samudra ditambah simbah dengan berita-berita kecelakaan laut kala itu, untuk sementara waktu beliaupun mengurungkan niatnaya, jarak tempuh antara Kebumen Batavia waktu itu sebuah problematika tersendiri, alat transportasi yang serba terbatas, belum lagi ystem administrasi colonial Belanda disegala kehidupan, termasuk administrasi keluar masuk daerah yang kurang memihak kepada pribumi. Melihat kondisi ini pemuda Busthomi memutuskan untuk sementara tinggal di tanjung priuk. Dan demi keamanan beliau memilih tinggal ditempat kepala desa setempat.


HIJRAH YANG PERTAMA

Ada keraguan kalau ayahnya masih marah, tetapi betul tausiyah terakhir Simbah Husen yang ternyata eyang Sandik Karma, Kiyai Saeroji dan keluarga besarnya menyambut gembira kepulangan Basthomi, rupanya mereka mulai menyadari apa yang tengah terjadi pada putra tercintanya.


Waktu terus berjalan Simbah Basthomi pun benar-benar telah menjadi tokoh panutan. Pada decade tahun 1920 an, suatu hari beliau mengumpulkan sanak keluarganya bahwa isarat istikharahnya menunjukkan agar beliau berdakwah kewilayah bagian barat jawa tengah tanpa paksaan keluarga besar bahkan eyang Sandik Krama sang ayah adalah salah satu motor penggerak dan sebagai sanak kerabatnya pun ikut, mana kala Simbah Busthami memutuskan untuk hijrah dan menetap di Kedung Dadap, yaitu sebuah dusun dibibir kali citandui sebuah sungai yang memisahkan Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Secara geografis dusun tersebut sekarang masuk di Desa Tambak Sari Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap. Meneladani Sirah Nabawiyah (Perjalanan Hijrah Nabi), mengawalinya dakwahnya Beliau pun membangun Masjid sebagai sentral kegiatan beliau sudah laksana gula dan madu dan tak berapa lama Kedung Dadap dari berbagai penjuru berdatangan santri yang hendak Baiat Tharikoh, diantara murid-muridnya yang berpengaruh kala itu adalah : 
  1. Kiyai Tirmidji, Kiyai asal Panisihan Kedungreja Cilacap 
  2. Kiyai Hasan Ma’ruf, Panisihan Kedungreja Cilacap
  3. Kiyai Mukri, Kiyai dari Prembun Pangandaran Ciamis Jawa Barat
  4. Kiyai Mukhtar, dari Paledah Padaherang Ciamis
  5. Kiyai Imam Sufiya, Maos Cilacap Jawa Tengah
  6. Kiyai Sanusi, Langensari Ciamis Jawa Barat
Simbah Busthomi adalah manusia biasa seperti kebanyakan orang, Beliaupun bertani untuk menghidupi keluarganya dan membiayainya putra-putrinya di Pondok Pesantren Beliaupun mencari tambahan penghasilan dengan menjual kerajinan alat-alat musik rebana hasil karyanya.


HIJRAH YANG KEDUA

Rencana jahat PKI ini segera tercium oleh Kyai Zarqoni putra kedua Simbah Buthomi. beliau segera pergi ke lampung untuk membuka jalan proses evakuasi sang ayah, kemudian atas bantuan si Bapak Jayusman kepala kampung Lands Baw (lambau) Gisting Lampung Selatan (sekarang masuk Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung) pada pertengahan tahun 1952/1953 suatu malam Simbah Busthomi dan keluarganya melalui pangandaran Ciamis Jawa Barat menuju ke Lampung. Padahal sebagai mana kita ketahui pengandaran adalah sebuah pantai wisata yang tidak memiliki pelabuhan antar pulau, wallohu a’alam tetapi melalui pantai inilah Simbah Busthomi mengalami pengarungan samudranya ketanah Sumatra. Naas pada malam itu juga Kyai Asmu’i yang diberi gugas oleh sang ayah untuk meneruskan perjuanganya di Kedung Dadap, tak bisa lari dari kekejaman PKi, ia terbunuh secara keji mayatnya ditenggelamkan di sungai citandui, dan sampai sekarang jasadnya tidak diketemukan. Semoga ketiadaan dan keberadaan beliau adalah kecintan Allah kepada beliau, mengampuni beliau dan mengalirkan rahmat kepada beliau sehingga ia berkumpul kepada para nabi, syuhada sholihin di Surga-Nya. (keterangan Kyai Jamaluddin 13-12-2011 jam 9.00).


UJIAN DAN COBAAN

Pada awal tahun 1940an Indonesia mulai bergejolak, melemahnya kekuatan colonial Belanda diiringi dengan semakin kuatnya posisi Jepang mencengkram Asia Timur Raya termasuk Indonesia dengan semboyan sebagai saudara tua, dengan kemudian pada akhirnya Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945. Simbah Busthomi secara fisik memang tidak mengangkat senjata melawan kekejaman penjajah. Manakala Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari atas nama umat islam yang tergabung dalam wadah Nahdlatul Ulama’ (NU) memaklumatkan resolusi jihad melawan belanda dan sekutunya, Simbah Busthomi pun menyambutnya dengan mengizinkan santri dan jama’ahnya bergabung dalam barisan Hizbullah dan pasukan Sabilillah. Indonesia yang baru beberapa tahun lahir, belum bisa menciptakan suasana politik yang stabil, ini terjadi karena beberapa kepentingan yang ingin menghilangkan kembali proklamasi, terutama belanda dan sekutunya dengan melancarkan agresi militernya yang terjadi dua kali yaitu pada tahun 1947 dan pada tahun 1948 dengan tujuan merebut kembali Indonesia yang presidensil menjadi Negara boneka dengan system parlemanter dan mengkerdilkannya dengan cara pergantian perdana menteri pada waktu singkat.

Pemberontakan PKI oleh Muso di Madiun yang terjadi pada tahun 1948, Marijan Kartosuwiro yang mengubah pasukan Hizbullah Sabilillah yang dipimpin menjadi DI/TII (Darul lalam/Tentara islam indonesia) yang akhirnya memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII) adalah tindakan makar dan usaha kudeta terhadap Negara yang baru berdiri.

Pemberontakan PKI mediun memang berhasil ditumpas, namun secara ideologis paham ini tidak serta menjadi hilang, bahkan semakin subur, pengikut aliran atimisme ini menyebar keberbagai wilayah di Indonesia untuk membangun kekuatan kembali, sebagian lari kearah barat jawa tengah tepatnya dikwasan yang masuk telatah Cilacap, mereka membangun kekuatan di daerah gunung goong (sekarang masuk wilayah Kecamatan Kedung Rejo Cilacap). Kelak pada pemilu 1955 bahkan PKI mampu memenangkan dan masuk 4 besar partai yang berkuasa di parlemen.

Melihat kekuatan dan ketokohan Simbah Busthomi, para pengikut anteisme ini sangat tidak senang. Mereka mulai melancarkan serangan dengan pembunuhan karakter dan fitnah terhadap Simbah Busthomi dan kyai Asmu’I putra tertua beliau. Mereka berhasil, dengan tuduhan subversive sebagai bupati Negara islam Indonesia yang di prokrlamirkan oleh DI/TII pimpinan Mariajn Kartoswiryo, akhirnya pad tahun 1950 Simbah Busthomi dan Kyai Asmu’i dijebloskan kedalam penjara Nusa Kambangan sebagai tahanan politik.

Selama 19 bulan dalam penjara Nusa Kambangan akhirnya Simbah Busthomi dan Kyai Asmu’i dibebaskan, karena tentara keamanan Indonesia tidak mampu membuktikan keterlibatan beliau berdua dalam Negara islam Indonesia.

Kegembiraan menyeruak menyelimuti keluarga dan jama’ah Simbah Busthomi dan putranya terbebas. Tetapi kegembiraan ini tidak berlangsung lama, pengikut PKI tidak serta merta puas dengan usaha menjebloskan Simbah Busthomi kedalam penjara, mereka mulai dengan rencana baru yaitu membunuh Simbah Busthomi dan Kyai Asmu’i putra sulung beliau.

 
WAY LUNIK BERSINAR

Walau dengan satu sayap terbukti kepaknya tetap kuat untuk tetap melanglang jagat dan menaklukkkan kesegaran bumi andalas dari kesejukan pohon-pohon qalbu dan lathifahnya, seusai menyemikan benih Iman dan Ahklak kepada jama’ah di Waluyo Jati pada tahun 1962 didampingi Nyai Salbiyah istri keduanya. Simbah Busthamil merintis kehidupan baru di Way Lunik (yang sekarang adalah Desa Purwosari Kecamatan Padangratu Kabupaten Lampung Tengah).

Berbaur dengan warga setempat dan warga baru yang berdatangan dari pulau Jawa, yang kebetulan dari komunitasnya mayoritas adalah orang-orang sunda yang berasal dari belahan timur Kabupaten Ciamis Jawa Barat dan segi etnis Jawa yang masih awam dengan Islam. Bersama dengan komunitas barunya Simbah Busthami bahu-membahu menyisir hutan dan jadilah hutan di Way Lunik (bahasa daerah Lampung) yang artinya kali kecil yang kemudian diadopsikan menjadi nama sebuah kampung. Seperti didaerah lain di Lampung ketika mengawali langkahnya, di Way lunik pun Simbah Busthami mendapat sambutan yang sangat hangat dari warga setempat, walau masih ada sebagian warga kecil warga awam agama yang tidak suka dengan kehadiranya. Warga lain daerah yang sudah mengenal warga besarnyapun segera berdatangan untuk bersilaturrahmi dan sebagianlagi untuk tabarukan.

Maka segeralah Beliau mewujudkan programnya, pada tahun itu juga dibagun Masjid Al-Muttaqin yang cukup fundamental, laksana menara pemanggilan seruan Ilahiyah lambat tahun Way Lunik menjadi ramai oleh tamu-tamu yang berdatangan hendak menimba hakikat Ilahiyah melalui Baiat Thoriqoh. Kegiatan bulanan yang jatuh pada tiap malam pada tanggal 11 bulan Qomariyah (Welasan), kemudian juga diadakan peringatan akbar tahunan yang jatuh pada tanggal 11 Robi’utsani , atau sering disebut dengan sebutan Haul Syeih Abdul Qodir Al-Jailani yang selalu digelar, sebagai ajang silaturrahmi dan ajang mendakwahkan Islam melalui nasehat-nasehat agamanya sekaligus memberikan tausiyah wejangan-wejangan tasawufnya melalui kegiatan Tawajjuhan atau Khataman. Jama’ah terus berdatangan dan tidak ketinggalan anak-anak muda yang ingin mengaji dan tabarukan dari tanah Jawa dan Sumatra juga semakin tahun semakin meningkat.

Maka untuk menampung anak-anak muda tersebut pada tahun 1971 sepulang dari Makkah guna menjalankan Ibadah Haji dianugrahi nama baru menjadi “Nur Muhammad Abdurrohim Busthamil Karim”. Akhirnya Beliau mendirikan Pondok yang diberi nama Pondok Pesantren Roudlotussholihin.

Pada dekade tahun tujuh puluhan ini Beliau banyak membai’at Jama’ah dan santri-santri seniornya di Jawa untuk dijadikan Mursyid antara lain :

  1. KH. Mustholi, Kedung Dadap Kedung Reja Cilacap Jawa Tengah. 
  2. Kiyai Musthofa Qalyubi, Setinggil Rawa Jaya Bantar Sari Cilacap Jawa Tengah. 
  3. KH. Abdul Hamid, Klapusari Bulaksari Bantar Sari Cilacap Jawa Tengah. 
  4. Kiyai Palil, Gandrung Manis Gandrung Mangu Cilacap Jawa Tengah. 
  5. KH. Mubaroq, Kedung Kerumpung Ciamis Jawa Barat. 
  6. Kiyai Aiman Sulaiman, Paledah Padaherang Ciamis Jawa Barat. 
  7. KH. Misbahul Munir, Padaherang Ciamis Jawa Barat. 
  8. Kiyai Harun, Pangandaran Ciamis Jawa Barat. 
  9. Kiyai Abdul Aziz, Pangandaran Ciamis Jawa Barat. 
  10. KH. Abu Said, Gandrung Mangu Cilacap Jawa Tengah. 
  11. KH. Abu Said, Maos Cilacap Jawa Tengah. 
  12. KH. Syarif, Purwokerto Banyu Mas Jawa Tengah. 
  13. KH. Muhammad Hidayat (santri ndalemnya sejak anak-anak), Pengasuh Pondok Pesantren Sukaraja Banyu Mas Jawa Tengah. 
  14. Kiyai Chairudin, Kebumen Jawa Tengah. 
  15. Kiyai Asrori, Kebumen Jawa Tengah. 
  16. Kiyai Abdul Cholik, Sawangan Banjar Negara Jawa Tengah. (tapi dalam satu riwayat, Kiyai Abdul Cholik dibai’at oleh Kiyai Abu Syujak menantu Simbah Busthami). 
  17. Kiyai Yahmad, Kebumen Banjar Agung Jawa Tengah. 
  18. KH. Romli, Cisiri Cipari Cilacap Jawa Tengah.

Sedangkan Jama’ah dan santri-santri seniornya yang kemudian menjadi Mursyid di Sumatra adalah antara lain :

  1. Kyai Baidlowi, PC Merto. 
  2. Kyai Abdul Basyir, Batang Hari Lampung Timur. 
  3. Kiyai Abdullah Ahmad, Pare Rejo Pringsewu 
  4. Kiyai Abu Suja’, Sendang Asih Lampung Tengah. 
  5. Mbah ‘Asik, Gisting Atas Tanggamus. 
  6. KH. Jamaluddin HB, Purwosari Padangratu Lampung Tengah. 
  7. Kiyai Marjuned, Sekampung Lampung Timur.
KERENDAHAN HATI SIMBAH BUSTHAMI

Seperti diceritakan olek Kiyai Sholehuddin Purwosari Padangratu Lampung Tengah, pada pertengahan tahun 70-an. Ada seorang mentri polisi etnik Lampung bernama Romli ingin bertaubat dari kebiasaan buruknya berjudi, menyabung ayam dan sebagainya, atas petunjuk Kiyai Tabi’in, Romli akhirnya berbai’at Thoriqoh Qodiriyah Wa-Annaqsyabandiyah kepada Simbah Busthami. Suatu saat Romli mengundang Simbah Busthami untuk memberi nasehat-nasehat ditempat kediamanya. Berangkat dari Purwosari (kampung terakhir Simbah Busthami bertempat tinggal) bertiga, Simbah Busthami sendiri, Nyai Salbiyah (istrinya) dan Kiyai Sholahuddin (cucu menantu) kedaerah sekitar Kemiling dan Gedung Tataan Lampung tempat Romli berdomisili, setelah Shalat Mahrib selesai Simbah Busthami berpesan kepada Kiyai Sholahuddin “Leh….! Mbok engko aku salah benerna ya…” (Leh….! Jika saya salah betulkan ya…), kemudian Simbah Busthami pun membaca I’tirofnya Abu Nawas (Ilaahii Lastu Li Al-Firdausi Ahlan….” Tanda Khataman atau Tawajjuhan dimulai sampai selesai.

Menjelang bulan puasa pada tahun tujuh puluhan, Bapak Muhammad Khusaini salah satu Jama’ah Thoriqohnya asal Purwodadi desa tetangganya di Lampung bertanya tentang puasa yang dijalankan oleh Simbah Busthami lebih awal dari pada isbat Mentri Agama Republik Indonesia tentang awal Ramadhan, dengan arif dan jauh dari kesan menggurui namun sangat diplomatis Beliau menjawab “Aku wong bodo mulane aku ra tau aseng wong kon melu aku”, (Saya orang bodoh makanya saya tidak pernah mengajak orang lain mengikuti saya) akan tetapi justru ketawadhuan dan kerendahan hatinya Jama’ah yang mengikuti Ijtihadnya semakin mantap dan tetap banyak. 



PULANGLAH KEHARIBAAN SANG KHOLIK

Sepulang dari Jawa kondisi Simbah Busthami tak kunjung membaik, akhirnya dengan meninggalkan warisan Ilmu dan Hikmah yang luar biasa kepada Jama’ah dan santri-santri yang berada di Jawa dan Sumatra pada tanggal 11 Dzul Hijjah 1399 H, atau bertepatan pada tanggal 31 Oktober 1979 M, di Way Lunik Beliau berpulang keharibaan Sang Kholik. Perjuangan diteruskan oleh KH Jamaluddin HB. Putra yang ke 10-nya, dan ditangan dinginnya ini kini Pondok Pesantren Roudlotussholihin telah mencetak Ribuan kader-kader Islam yang bertebaran hampir seluruh Propinsi di Sumatra. 



SIKILAS TENTANG PUTRA-PUTRI SIMBAH BUSTHAMI

Simbah Busthami menikah tiga kali, tetapi Beliau-Beliau (istri-Istri) Simbah Busthami dikaruniyai putra-putri hanya dari dua istrinya, pernikahannya dengan Nyai Muthu’ah dikaruniyai Sembilan putra-putri, sedangkan dari pernikahan dengan Nyai Salbiyah dikaruniyai delapan putra-putri yaitu :
 
1. Kiyai Asmungi
Kiyai Asmungi adalah putra pertama Simbah Busthami, Beliau dikenal kealimanya dalam Ilmu Falaq, buah dari nyantrinya ke Pondok Bendo Pare Kediri, Pondok Peterongan Jombang yang sekarang adalah Pondok Pesantren Darul ‘Ulum, Beliau juga pernah nyantri bersama dengan KH. Abdul Wahab pengasuh Pondok Pesantren Pesugihan Lor, Beliau pun pernah nyantri bersama dengan Syeih Romli Tamim (menantu Hadrotus Syeih KH. Hasyim Asyari Tebu Ireng) tokoh sufi Mursyid Thoriqoh Qidiriyah Naqsabandiyah asal Rejoso Jombang Jawa Timur. Beliau diamanati mengasuh santri dan menjadi Mursyid Jama’ah Masjid Kedung Dadap yang didirikan ayahnya.

Kiyai Asmungi wafat oleh penganiyayaan orang-orang berpaham komunis disepanjang kali Citandui perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Barat pada pertengahan tahun 1952 dan sampai saat ini tidak diketahui jasadnya. Beliau meninggalkan seorang istri (Nyai Jauhari Ningsih) dan dua anak putra dan putri diantaranya bernama Gus Mubarok.
 
2. Kiyai Zarqoni
Kiyai Zarqoni adalah putra kedua Simbah Busthami, Beliau terakhir saat Simbah Busthami sedang mengalami Khoriqul ‘Adah (Jadzab yang pertama) Beliaupun memiliki prilaku yang agak nyeleneh dan memiliki pandangan Linewih. Pendidikannya di Pesantren Pahonjean Majenang Cilacap pengasuhnya yaitu KH. Solehan. Beliau dikenal dengan keberaniyannya dan Beliaulah yang menjadi perantara Simbah Busthami pindah ke Lampung. Beliau diamanati untuk meneruskan perjuanganya sang ayah menjaga Masjid di Sido Mulyo Roworejo yang telah diritisnya. Sekarang Masjid ini telah berkembang pesat dengan bangunan Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Pondok Pesantren Roudlotussholihin disekitarnya yang dimotori oleh putranya yaitu KH. Syahruddin (cucu Simbah Busthami yang baru saja wafat pada hari Jum’at tanggal 8 Robiul Akhir 1432 H. atau bulan Mei 2011 M.)

Kiyai Zarqoni wafat pada usia yang masih relatif muda sekitar tahun 1958 karena sakit saat mengunjungi Eyangnya Kiyai Sairoji di Kebumen dan dimakamkan dikomplek pemakaman keluarga Kiyai Sairoji di Sijago Kedompon Kebumen. Beliau meninggalkan seorang iatri yaitu Nyai Taslimah dan lima anak yaitu KH. Syahruddin, Nyai Siti Maemunah, Kiyai Jamhuri, Nyai Siti Sariyah, dan Gus Syahid (Alm).
 
3. KH. ‘Asiq
KH. ‘Asiq adalah putra ketiga Simbah Busthomi, Beliau mengawali nyantrinya di Pondok Pesantren Bumi Ayu, Pondok Pesantren Cijantung, Pondok Pesantren Kesugihan Lor pengasuhnya bernama KH. Abdul Wahab, Pondok Pesantren Bendo Pare Kediri. Beliau terkenal dengan Ilmu Hikmahnya. Beliau terakhir menjadi pemangku Masjid Gisting Atas Tanggamus Lampung pada tahun 2005 Beliau meninggalkan seorang istri dan tidak dikaruniyai keturunan.
 
4. Nyai Ruqoyah
Nyai Ruqoyah adalah putri keempat Simbah Busthomi, Beliau pertama nyantri bersama dengan kakaknya Kiyai Zarqoni di Panjohean Majenang Cilacap pengasuhnya bernama KH. Sholehan.

Beliau menikah dengan Kiyai Muhammad Yusak dikaruniyai tujuh putra yaitu Ahmad Zaini, Sri Haryati, Burhanuddin, Siti Halimah, Umi Fauziyah, Jawahirdan Syamsul Hidayat.
Nyai Taslimah

Nyai Taslimah adalah putri kelima Simbah Busthami, Beliau menikah dengan KH. Marsyid Kedung Haur Padaherang Ciamis Jawa Barat, Beliau dikaruniyai dua putri yaitu Nyai Qumroyah dan Nyai Jauhariyah.
 
5. Nyai Jurmiyah
Nyai Jurmiyah adalah putri keeman Simbah Busthami, Beliau menikah dengan KH. Romli dan dikaruniyai lima putra dan putri yaitu Nyai Hj. Nur Asiah, Nyai Aminah, Nyai Hj. Chomsiyah, KH. Nuruddin dan Nyai Solih meninggal saat usia muda.
 
6. Nyai Khosiyah 

7. Kiyai Harun Nur Rosyid

Kiyai Harun Nur Rosyid adalah putra kedelapan Simbah Busthami yang meninggal saat usia muda.
 
8. Kyai Ridwan
Kiyai Ridwan adalah putra kesembilan Simbah Busthami yang meninggal saat usia muda.
 
9. KH. Jamaluddin HB.
KH. Jamaluddin HB. adalah putra kesepuluh Simbah Busthomi yang sekarang adalah pengasuh Pondok Pesantren Roudlotussholihin Purwosari Padangratu Lampung Tengah yaitu Pesantren yang didirikan oleh ayahnya. Beliau aktif saat ini aktif dikepengurusan Nahdlatul Ulama’ Lampung, Beliau juga Mursyid utama dan Ketua Pengurus Idarotul Wustho Thoriqoh Qodiriyyah Naqsabandiyyah Yayasan Roudlotussholihin yang Beliau dirikan, selain sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Beliau juga telah membawahi atau mendirikan beberapa Lembaga Pendidikan mulai dari TPA/TK Roudlotul Atfal, MI Roudlotul Huda, MTs Roudlotul Huda, MA Roudlotul Huda dan SMK Roudlotul Huda.
 
10. Kiyai Jumrotul Mu’minin
Kiyai Jumrotul Mu’minin adalah putra kesebelas Simbah Busthami yang meninggal saat usia muda.
 
11. Nyai Jumrotul Jusmaniyah
Nyai Jumrotul Jusmaniyah adalah putra keduabelas Simbah Busthami, Beliau menikah dengan KH. Abu Sujak dan dikaruniyai tiga putra-putri.
 
12. Kiyai Juli Khofi
Kiyai Juli Khofi adalah putra ketigabelas Simbah Busthami yang meninggal saat usia muda.
 
13. Kiyai Albadji
Kiyai Albadji adalah putra keempatbelas Simbah Busthami yang meninggal saat usia muda.
 
14. Kiyai Muhajir
Kiyai Muhajir adalah putra kelimabelas Simbah Busthami yang meninggal saat usia muda.
 
15. KH. Miftahuddin HB.
KH. Miftahuddin HB. adalah putra keenambelas Simbah Busthami, Beliau sekarang juga pengasuh Pondok Pesantren Roudlotussholihin Purwosari Padangratu Lampung Tengah, bersama kakaknya KH. Jamaluddin HB. disamping mengajar para santri beliau juga mengelola Lembaga-Lembaga Pendidikan Formal yang merupakan bagian dari sub Pendidikan Pesantren, sekarang Beliau aktif berdakwah melalui Organisasi Nahdlatul Ulama’ Lampung.
 
16. Nyai Siti Asiyah HB.  
Nyai Siti Asiyah adalah putri terakhir Simbah Busthami, Beliau menikah dengan KH. Ismail Hasan (Alm) meninggal pada tanggal 7 Robiul Awal 1433 H. bertepatan tanggal 31 Januari 2012 M.

DARI MASJID KEMASJID DARI PESANTREN KEPESANTREN

Hampir sepanjang hidupnya Simbah Busthomi menghabiskan untuk berdakwa dengan mendirikan Masjid-Masjid, mengajarkan ajaran tasawuf melalui Thoreqoh Qodiriyah Wa Al-Naqsyabandiyah kepada murid dan santri-santrinya, mendirikan Pesantren, Madrasah diantaranya adalah :

  1. Masjid Kedudapan (Gedung Reja / Sidareja Cilacap). 
  2. Masjid Rawa Keling (Rawaq Jaya / Sitiggil Bantar Sari Cilacap). 
  3. Sekitar Tahun 1954 Masjid Lands Baw Gisting (Lampung Selatan, sekarang Kabupaten Tangamus). 
  4. Pada sekitar tahun 1954 mendirikan Masjid Gisting Atas ( Tangamus). 
  5. Tahun 1959 Masjid Sido Mulyo Roworejo (Lampung Selatan, Sekarang Pesawaran).  
  6. Tahun 1960 atas permohonan Kiyai Umar untuk merubah Masjid Waluyo Jati Pringsewu Tanggamus, sekarang jadi Kabupaten Pringsewu. 
  7. Tahun 1960 Masjid Sidomulyo Roworejo Lampung Selatan, sekarang Pesawaran. 
  8. Tahun 1968 Masjid Al-Muttaqin Purwosari. 
  9. Tahun 1968 mendirikan Pondok Pesanteren Roudlotussolihin Purwosari Lampung. 
  10. Masjid Sendang Dadi. 
  11. Atas permintaan masyarakat membangun Masjid Umbulkultum Bayu Mas Tanggamus, sekarang menjadi Kabupaten Pringsewu. 
  12. Masjid Mojorejo (Lampung Tengah atas permintaan masyarakat membangun Masjid Jaya Sekti (Lampung). 
  13. Masjid Neglasari Liggapura (Lampung Tengah). 
  14. Masjid Fathurrohman Purwodadi (Lampung Tengah). 
  15. Masjid Baturaja Kota Agung (Tanggamus ) Bertepatan dengan wafatnya KH. Abdul Wahab pengasuh Pesantren Kesugihan Lor. 
  16. Tahun 1972 Merehab Masjid Rawa Keling Rawa Jaya (Banter Sari Cilacap). 
  17. Menyumbangkan kayu Rawa Keling untuk pembangunan Masjid Kedur Haur Pada Herang Ciamis Jawa Barat asuhan Kyai Mursyid (menantunya). 
  18. Membangun Pesantren Patinggeng Pada Herang asuhan KH. Misbahul Munir(Ciamis). 
  19. Tahun 1974 membangun Masjid Sitinggil Wetan asuhan Kyai Musthofa (Bantar Sari Cilacap). 
  20. Masjid Laharan (sebelah utara Ciuru Cipari Cilacap). 
  21. Merehab Masjid Simbah Kyai Husein Zamakhsyari Paritd (Kawungganten Cilacap). 
  22. Tahun 1976 membangun Masjid Fakhturrohman Purwodadi  
  23. Tahun 1978 Simbah Busthami pergi ke Jawa lagi membangun Madrasah di Rawa Keling Rawa Jaya (Bantar Sari Cilacap) 
  24. Sepulang dari Rawa Keling tahun 1978 dalam kondisi gerah (sekit), membangun Serambi sebelah utara Masjid Al–Mutaqqin Purwosari.
SILSILAH THARIQOH QODIRIYAH SIMBAH BUSTHAMI
  1. Syeikh Simbah KH. Busthamil Karim 
  2. Syeikh Husain Parid Kawunganten Cilacap 
  3. Syeikh Siroj Sungai Rengat Singapura 
  4. Syeikh Zarkasyi Berjan Purwodadi 
  5. Syeikh Abdul Karim Al-Bantani, Kemudian Al-Makky 
  6. Syeikh Ahmad Khotib Ibnu Abdil Ghofar As-Syambasy Kalimantan Al-Makky 
  7. SAYYID SYEIKH SYAMSUDDIN 
  8. Syeikh Murod 
  9. Syeikh Abdul Fatah 
  10. Syeikh Kamaluddin 
  11. Syeikh Utsman
  12. Syeikh Abdurrahim 
  13. Syeikh Abi Bakar 
  14. Syeikh Yahya 
  15. Syeikh Hisamuddin 
  16. Syeikh Waliyuddin 
  17. Syeikh Nuruddin 
  18. Syeikh Zainuddin 
  19. Syeikh Syarifuddin 
  20. Syeikh Syamsuddin 
  21. Syeikh Muhammad Al-Hattak 
  22. Syeikh Abdul Aziz 
  23. Syeikh Quthb Al-Aulia’ Sayyid Abdul Qodir Al-Jailani 
  24. Syeikh Abi Sa’id Al-Mubarok Al-Mahzumy 
  25. Syeikh Abil-Hasan Ali Al-Hakary 
  26. Syeikh Abil-Faraj Ath-Thurthusiy 
  27. Syeikh Abdul Wahid At-Tamimy 
  28. Syeikh Abi Bakar Asy Syibly 
  29. Syeikh Abi Al-Qosim Al-Junaidi Al-Baghdadiy 
  30. Syeikh Hasan Sarry As-Saqothy Syeikh Ma’ruf Al-Karkhy 
  31. Syeikh Ali Ridho Musa Al-Kadhzim 
  32. Syeikh Musa Al-Kadhzim Ibnu Ja’far As-Shodiq 
  33. Syeikh Ja’far As-Shodiq Ibnu Muhammad Al-Baqir 
  34. Syeikh Muhammad Al-Baqir Ali Zainal Abidin 
  35. Syeikh Al-Imam Zainal Ibnu Sayidina Husain 
  36. Sayidina Husain Ibnu Sayyidatina Fatimah Az-Zahro 
  37. Syeikh Ali Ibnu Abi Tholib KW 
  38. Sayyidina Muhammad SAW 
  39. Sayyidina Jibril AS 
  40. Allah Jalla Jalaaluh
SILSILAH THARIQOH NAQSYABANDIYAH SIMBAH BUSTHAMI
  1. Syeikh Simbah KH. Busthamil Karim 
  2. Syeikh Husain Parid Kawunganten Cilacap 
  3. Syeikh Siroj Sungai Rengat Singapura 
  4. Syeikh Zarkasyi Berjan Purwodadi 
  5. Syeikh Abdul Karim Al-Bantani, Kemudian Al-Makky 
  6. Syeikh Ahmad Khotib Ibnu Abdil Ghofar As-Syambasy Kalimantan Al-Makky 
  7. SAYYID SYEIKH SYAMSUDDIN 
  8. Syeikh Abu Musa 
  9. Syeikh Abu Sa’id 
  10. Syeikh Abdullah Ad-Dahlawiy 
  11. Syeikh Syamsuddin Habibullah 
  12. Syeikh Nur Muhammad Al-Badwan 
  13. Syeikh Saefuddin 
  14. Syeikh Muhammad Ma’shum Ibnu Imam Al-Robaniy 
  15. Syeikh Ahmad Al-Masyhur Bi-Al-Imam Al-Robaniy 
  16. Syeikh Muabid Ad-Din Al-Baqi Billah 
  17. Syeikh Muhammad Al-Khowajikiy 
  18. Syeikh Darwis Muhammad Al-Samarqondiy 
  19. Syeikh Muhammad Al-Zaid 
  20. Syeikh Nasiruddin Abdullah Al-Akhororiy 
  21. Syeikh Ya’qub Al-Jarkhiy 
  22. Syeikh Muhammad Ibnu Muhammad Alaudin Al-Khowariziy 
  23. Syeikh Bahauddin Muhammad Al-Naqsyabandiy 
  24. Syeikh Amir Kulal Ibnu Syayyid Hamzah 
  25. Syeikh Baba Al-Samasiy 
  26. Syeikh Azizan Ali Romitaniy Al-Mansyur Ni-Al’uroizan 
  27. Syeikh Mahmud Al-Anjir Faghnawi 
  28. Syeikh Arif Al-Riwghriy Atau ‘Arif Riukariy 
  29. Syeikh Abdul Kholik Al-Ghujdzawanniy 
  30. Syeikh Abu Ya’qub Yusuf Al-Hamadani 
  31. Syeikh Abu Ali Al-Fadhol Bin Muhammad At-Tusi Al-Farmadiy 
  32. Syeikh Abu Hasan Ali Bin Ja’far Al-Khorqoniy 
  33. Syeikh Abu Yazid Al-Busthamiy 
  34. Syeikh Imam Ja’far As-Shodiq Sibtu Al-Qosim 
  35. Syeikh Al-Qosim Ibnu Muhammad Bin Abi Bakar 
  36. Salman Al-Farisiy 
  37. Sayyidina Abi Bakar Al-Shidiq 
  38. Sayyidina Muhammad SAW 
  39. Sayyidina Jibril AS 
  40. Allah Jalla Jalaaluh
Sumber Refrensi : Buku BIOGRAFI SIMBAH KH. BUSTHOMIL KARIM Terbitan Pondok Pesantren Roudlotussholihin Purwosari, Padang Ratu, Lampung Tengah .

http://wisatatelukkiluan.com

G+

7 comments:

  1. assalamu"alaikum..salam silaturahm dari banjarsari ciamis...alhamdulilh saya sudah lama mencari artikel simbah bustomi akhirnya ketemu juga...mihon izin untuk copy photto dan artikelnya...sebelumnya atas izinya saya ucapkan banyak terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. wa'alaikum sama warohmatulloh. iya mas silahkan

      Delete
  2. بارك الله لنا ولكم

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Assalamualaikum.punten kang azin copas artikel sama gambarnya

    ReplyDelete
  5. Assalamu'alaikum ijin copas mas... Mater suwon

    ReplyDelete

Tour & Travel Lampung

Copyright © Eko Rudianto Blogs Sponsored by Wisata Teluk Kiluan | Powered by Blogger